Feeds:
Pos
Komentar

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengadakan rapat bersama sejumlah ormas Islam yang tergabung dalam Forum Ukhuwah Islamiyah. Mereka yang hadir antara lain dari Muslimat NU, Nasiyatul Aisyiah, Wanita Islam, Fatayat NU, Alumni Timur-Tengah, KOHATI, Aisyiah, Wanita Islam, Forum Umat Islam serta HTI.

Hasil pertemuan tersebut menghasilkan pernyataan sikap Forum Ukhuwah Islamiyah dan Majelis Ulama Indonesia, terdiri dari enam poin.

Pertama, menyesalkan sikap DPR yang kembali mengulur waktu pengesahan RUU Pornografi dengan mengadakan uji shahih di tiga daerah: Bali, Jogyakarta dan Sulawesi Utara. “Karena disinyalir adanya fraksi tertentu yang menolak RUU Pornografi ini. Kami menghimbau agar Pansus dan umat mengabaikan partai tertentu tersebut,” kata Wellya Safitri, Sekretaris MUI membacakan enam poin pernyataan sikap tersebut, di Sekretariat MUI, Jakarta. Lanjut Baca »

Pertolongan Allah Tidak Gratis

Rumah Rasulullah saw sudah dikepung. Sebelas gembong penjahat dari beragam kabilah mendekam di persembunyiannya. Masing-masing siaga dengan senjata terhunus. Mata mereka liar nyaris tak berkedip mengawasi setiap celah yang memungkinkan Rasulullah saw keluar.Dalam situasi yang sangat genting itulah, Rasulullah saw menyuruh Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempatnya sambil mengenakan selimut yang biasa dipakai beliau. Kemudian, beliau keluar rumahnya tanpa diketahui para pengepungnya. Rasulullah saw langsung menuju rumah Abu Bakar as-Shiddiq. Lewat pintu belakang, keduanya menempuh perjalanan ke arah selatan sejauh lima mil. Keduanya tiba di gua Tsur di atas puncak sebuah bukit yang cukup tinggi. Selama tiga hari keduanya bersembunyi di gua tersebut.

Setelah mengetahui keadaan cukup aman, ditemani seorang penunjuk jalan bernama Abdullah bin Uraiqith, Rasulullah dan Abu Bakar melanjutkan perjalanan ke arah selatan. Setelah melewati daerah pantai dan daerah sepi yang nyaris tak pernah dilewati orang, mereka berbalik ke arah utara menuju Madinah. Pada Senin, 8 Rabiul Awal tahun keempat belas dari kenabian, bertepatan dengan tanggal 23 September 622 M, Rasulullah saw tiba Quba’. Disana beliau mendirikan mesjid dan tinggal selama 4 hari. Setelah itu bersama beberapa orang sahabat yang menjemputnya, beliau bergerak menuju Madinah. Lanjut Baca »

Segeralah Berdoa

Di lembah Makkah yang datar. Sepanjang hari matahari membakar. Pasir-pasir berbisik kepanansan. Fatamorgana meliuk-liuk perlahan. Disanalah, ditanah yang gersang itu, Nabi Ibrahim ‘alaihisalam baru saja meninggalkan istriny, Hajar, bersama bayi kecilnya Ismail. Ia harus pergi atas perintah Allah, meninggalkan keluarganya tercinta. Sebuah ujian yang tidak ringan.Tetapi Ibrahim tidak lantas berkecil rasa. Justru saat itu ia memasrahkan keluarganya kepada Allah, Dzat Yang memeintahkan dirinya untuk beranjak. Ibrahim pun berdoa. “Ya Yuhan kaim, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman-tanaman, di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadkanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Ibrahim:37)

Ibrahim adalah kekasih Allah, tetapi doa dan permohonan Ibrahim untuk kebaikan anak istrinya bercerita tentang fakta lain. Bahwa siapapun sangat perlu kepada doa. Ibrahim bahkan harus berpanjang-panjang doa. Merangkum segala harap, tidak saja untuk istri dan anaknya, tetapi jga untuk kebaikan penduduk mekkah, untuk kebaikan anak cucunya, untuk kesinambunagn penghambaan kepada Allah Yang Esa. Ibrahim pun berkata, “Ya Tuhan kami, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.(QS. Ibrahim:40) Lanjut Baca »

Mencintai Rasulullah

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah Saw.itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS.Al Ahzab:21)KETIKA denyut dan nafas akhir kehidupan Rasulullah Saw. segera menghampirinya, seraya ditemani putri tercintanya, Fatimah, satu kata terucap dari bibir beliau, “Ummatii…ummatii…” Sebuah ungkapan kerinduan dan kecintaan yang teramat indah kepada umatnya.

Sejak saat itu, dunia kehilangan manusia terbaik sepanjang sejarah peradaban. Kelam pun menyelimuti seluruh langit. Beliau mengucapkan selamat tinggal sekaligus selamat datang pada generasi yang akan mengikuti millah-nya. Perwujudan kecintaan yang begitu dalam dan tidak akan lekang hingga akhir zaman. Lanjut Baca »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.